Ruangsidang.com – Dunia pendakian Indonesia kehilangan salah satu sosok ikoniknya. Pemilik warung legendaris di dekat puncak Gunung Lawu, Mbok Yem meninggal dunia pada usia 82 tahun. Perempuan bernama asli Wakiyem itu menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Selasa (22/4/2025) pukul 15.30 WIB.
Kabar duka ini dibenarkan oleh Kepala Dusun Cemoro Sewu. Ia mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Mbok Yem memang menurun sejak sebelum bulan Ramadan. Sempat menjalani perawatan di RSUD dr. Harjono Ponorogo, Mbok Yem akhirnya berpulang setelah beberapa bulan berjuang melawan sakit.
“Sebelum puasa sudah sakit dan turun gunung. Waktu itu ditandu oleh enam orang karena tidak kuat berjalan. Setelah itu sempat dirawat di rumah sakit,” ujarnya.
Mbok Yem dikenal luas di kalangan pendaki sebagai satu-satunya pemilik warung di puncak Gunung Lawu, tepatnya di sekitar Hargo Dumilah pada ketinggian sekitar 3.150 meter di atas permukaan laut. Warungnya menjadi tempat persinggahan utama para pendaki untuk beristirahat, menghangatkan diri, dan mengisi tenaga.
Sejak 1980-an, warung tersebut berdiri dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan mendaki Lawu. Harga makanan yang ditawarkan dikenal terjangkau, sementara keramahan Mbok Yem menjadikannya sosok yang dirindukan banyak orang. Tak sedikit pendaki yang menyebut bahwa perjalanan ke puncak Gunung Lawu belum lengkap tanpa mampir ke warungnya.
Turunnya Mbok Yem dari Gunung Lawu bukan hal yang asing, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Namun tahun ini, penurunan tersebut terjadi lebih awal akibat memburuknya kondisi fisik. Sejak Februari 2025, Mbok Yem didiagnosis menderita pneumonia yang menyebabkan kesehatannya menurun tajam. Ia sempat dirawat di dua rumah sakit berbeda sebelum akhirnya kembali ke rumah untuk menjalani perawatan di bawah pengawasan keluarga.
Kini, warung yang selama puluhan tahun menjadi penanda semangat dan keramahan di ketinggian Gunung Lawu, kehilangan sosok pengelolanya. Kepergian Mbok Yem menyisakan duka mendalam bagi komunitas pendaki dan warga sekitar. Banyak yang mengenangnya sebagai pribadi sederhana, ramah, dan selalu siap membantu para pendaki tanpa pamrih.
Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka di Desa Gonggang. Rencananya, pemakaman akan dilakukan di Tempat Pemakaman Umum desa setempat.
Hingga kini, belum diketahui siapa yang akan melanjutkan pengelolaan warung peninggalan Mbok Yem di puncak Gunung Lawu. Namun, warung tersebut diyakini akan tetap menjadi saksi bisu atas jejak langkah ribuan pendaki yang pernah singgah dan merasakan kehangatan layanan Mbok Yem di tengah dinginnya udara pegunungan.
Mbok Yem meninggal dunia menandai berakhirnya sebuah era dalam dunia pendakian Indonesia. Warungnya tidak sekadar tempat jual beli, tetapi juga simbol kehangatan dan kemanusiaan di tengah alam yang liar dan menantang.