JOMBANG — Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi perhatian setelah KH Nurul Huda Djazuli menyampaikan pandangannya mengenai arah kepemimpinan organisasi. Dalam forum silaturahmi bersama jajaran Mustasyar dan Pengurus Besar NU, KH Nurul Huda menyebut KH Said Aqil Siroj sebagai figur yang dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin NU pada periode mendatang.
Pandangan tersebut disampaikan dalam konteks pentingnya menjaga karakter NU sebagai jam’iyah yang berakar pada tradisi pesantren dan kepemimpinan ulama. KH Nurul Huda menilai sosok kiai dengan pengalaman serta kedalaman keilmuan memiliki posisi penting dalam menentukan arah organisasi.
Menurutnya, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami tata kelola organisasi, tetapi juga memiliki kedekatan dengan para ulama dan memahami persoalan warga nahdliyin. Pemikiran itu kemudian dikaitkan dengan pengalaman KH Said Aqil Siroj ketika memimpin PBNU.
KH Nurul Huda menyampaikan bahwa kepemimpinan KH Said Aqil pada periode sebelumnya meninggalkan kesan positif terhadap kondisi organisasi. Ia menilai NU ketika itu berada dalam keadaan yang baik dan kompak.
“Alangkah baiknya kalau kita kembalikan saja kepada Pak Said,” ujar KH Nurul Huda.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu aspirasi yang muncul menjelang Muktamar ke-35 NU. Dukungan terhadap KH Said Aqil juga berkembang melalui narasi #AbuyaPengayomNU, yang menggambarkan harapan sebagian kalangan terhadap figur ulama yang dinilai mampu memberikan pengayoman bagi organisasi.
Selain itu, muncul pula narasi #DaulatKiaiSaid yang menekankan aspirasi agar kepemimpinan NU kembali mempertimbangkan pengalaman dan kapasitas KH Said Aqil. Sementara itu, #NderekKiaiSaid menjadi bagian dari ekspresi dukungan terhadap sosok tersebut di tengah dinamika menuju Muktamar.
KH Nurul Huda juga menekankan bahwa NU sebagai organisasi besar membutuhkan kepemimpinan yang memahami karakter jam’iyah. Ia berpandangan bahwa kepemimpinan NU tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab keulamaan.
“NU ini tidak bisa diatasi oleh siapa pun yang bukan kiai, yang bukan masyaikh, yang bukan ulama,” katanya.
Ia kemudian menyebut KH Said Aqil Siroj sebagai salah satu sosok yang menurutnya memiliki kemampuan untuk mengemban tanggung jawab tersebut.
Meski demikian, dinamika menjelang Muktamar tetap merupakan bagian dari proses organisasi. Berbagai pandangan, dukungan, dan aspirasi dari kalangan ulama maupun warga nahdliyin akan menjadi bagian dari pembahasan sebelum keputusan kepemimpinan ditetapkan melalui mekanisme resmi.
Muktamar ke-35 nantinya menjadi forum untuk menentukan arah kepemimpinan dan perjalanan organisasi pada periode berikutnya. Karena itu, berbagai aspirasi yang muncul perlu ditempatkan sebagai bagian dari dinamika internal NU.
Bagi KH Nurul Huda, persoalan utama bukan sekadar siapa yang menduduki posisi kepemimpinan. Lebih jauh, ia mendorong agar NU tetap berada dalam arah yang kuat pada tradisi keulamaan, pesantren, serta kepentingan jam’iyah.
Dengan demikian, munculnya kembali nama KH Said Aqil menjelang Muktamar memperlihatkan bahwa pengalaman kepemimpinan dan kapasitas ulama masih menjadi salah satu pertimbangan dalam pembicaraan mengenai masa depan NU.