Ruangsidang.com – Sejumlah wilayah di Sumatra Utara saat ini berada dalam kondisi cuaca tidak stabil akibat pengaruh Siklon Tropis Senyar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan melaporkan bahwa sistem cuaca tersebut berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka. Siklon itu menghasilkan angin kencang dengan kecepatan maksimum 43โ49 knot serta tekanan udara minimum 998 hPa, sehingga memicu hujan deras di berbagai daerah di Sumatra.
Menurut BMKG, Siklon Senyar juga dikenal sebagai bibit siklon tropis 95B yang kemudian meningkat statusnya menjadi siklon tropis. Peningkatan tersebut berdampak pada melimpahnya suplai uap air ke wilayah barat Sumatra Utara. Kondisi itu membuat hujan berlangsung lebih lama dan menambah ketidakstabilan atmosfer di beberapa kawasan.
Dalam keterangan resmi, Kepala BMKG Wilayah I Medan, Dr. Hendro Nugroho, menyampaikan bahwa hujan berintensitas tinggi terjadi hampir setiap hari selama sepekan terakhir. Ia menjelaskan bahwa curah hujan dari berbagai UPT BMKG di Sumatra Utara menunjukkan kategori lebat hingga ekstrem. Catatan tertinggi terukur di ARG Pakkat mencapai 238,4 mm pada 25 November 2025. Selain itu, hujan lebat juga terpantau di Stamet F.L Tobing sebesar 229,7 mm, ARG Tapanuli 176,4 mm, serta beberapa titik lainnya di Tapanuli Selatan, Teluk Dalam, Arse, Salak, hingga Hinai, Langkat.
Dr. Hendro menegaskan bahwa peningkatan intensitas hujan tidak hanya dipicu oleh siklon tropis, tetapi juga diperkuat oleh kelembapan udara yang sangat tinggi di seluruh wilayah Sumatra Utara. Udara yang lebih basah membuat potensi hujan lebat kian besar, terutama di daerah dengan kondisi topografi curam. Situasi tersebut kemudian memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Sementara itu, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa sejumlah wilayah sudah mengalami dampak nyata dari cuaca ekstrem. Petugas Brimob Polda Sumut dikerahkan untuk mengevakuasi warga lanjut usia di Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah, setelah kawasan itu dilanda banjir dan material longsor. Beberapa daerah lain juga mengalami peristiwa serupa, termasuk Tapanuli Utara yang sejak 24 November 2025 terendam banjir di beberapa lokasi.
BMKG menjelaskan bahwa faktor global turut memperburuk kondisi ini. Indeks Dipole Mode (IOD) masih berada pada fase negatif dan diperkirakan bertahan hingga Desember 2025. Fase tersebut meningkatkan pasokan uap air ke pantai barat Sumatra Utara. Bersamaan dengan itu, gelombang atmosfer juga masih aktif di wilayah sekitar sehingga memperkuat pembentukan awan tebal dan memperbesar potensi hujan.
Selain menjelaskan karakteristik cuaca, BMKG juga merinci wilayah yang saat ini terdampak Siklon Senyar. Total terdapat 26 kawasan di Sumatra Utara yang masih berada dalam kategori siaga hujan lebat. Daerah tersebut meliputi Langkat, Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Simalungun, Samosir, Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Humbang Hasundutan, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunungsitoli, serta Toba.
BMKG mengimbau masyarakat di seluruh wilayah tersebut untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Selain memperhatikan kondisi langit, warga diminta mengikuti informasi resmi dari instansi terkait agar dapat melakukan antisipasi lebih dini. Pemerintah daerah juga diharapkan mengaktifkan posko siaga bencana untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat, terutama di kawasan rawan banjir dan longsor.
Dengan kondisi atmosfer yang masih labil serta pengaruh Siklon Senyar yang belum sepenuhnya melemah, BMKG memperkirakan cuaca buruk di Sumatra Utara masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap berhati-hati dan tidak mengabaikan potensi ancaman yang mungkin muncul akibat perubahan cuaca.